1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Anak Muda Perlu Tuntut Banyak Debat Gagasan di Pilpres 2024

Prita Kusumaputri
7 Juni 2023

Menjadi "penentu suara", anak muda dinilai perlu dorong pembahasan isu agar debat gagasan mendominasi nuansa politik sembilan bulan jelang Pemilu 2024. Gerakan independen Bijak Memilih hadir untuk menuntut itu.

Indonesien Jakarta - Wahlhelfer
Foto: Reuters/W. Kurniawan

Sebanyak 110 juta orang atau hampir 60 persen dari total pemilih pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 adalah anak muda. Meski suara pemilih muda menentukan, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin memperingatkan hingga saat ini nuansa politik Indonesia masih cenderung membusuk-busuki lawan (black campaign). 

Padahal menurutnya, pada masa-masa sembilan bulan menjelang Pemilu 2024 seperti inilah diperlukan adanya kemauan dan dorongan agar nuansa politik bergerak ke arah pembahasan isu yang konkret dan relevan

Foto: privat

"Untuk meminimalisir politik identitas, sebaran hoaks, polarisasi, maka yang harus dibangun dan dikembangkan adalah politik adu ide dan gagasan. Mestinya anak-anak muda Indonesia masuk ke wilayah ini, termasuk capres dan cawapres perlu masuk ke wilayah pertarungan ide dan gagasan seperti di luar negeri, di negara-negara maju,” ujar Ujang.

Anak muda ingin dengar lebih banyak debat gagasan

Meski akan jadi penentu suara pada Pemilu 2024, rata-rata anak muda yang DW Indonesia wawancarai mengaku belum tahu benar siapa kandidat calon presiden (capres) yang akan lebih banyak membawa ide dan gagasan. Namun, yang ingin mereka dengar adalah solusi masalah yang konkret bukan sekadar janji-janji politik belaka.

"Berharap banget di Pilpres nanti, ada (capres) yang bisa benar-benar berjanji untuk memastikan bahwa polisi akan menjadi yang mengayomi kita lagi. Kita enggak harus takut sama polisi dan kita bisa menjadi warga yang merasa polisi itu bisa sangat di pihak kita. Enggak lagi karena mereka punya jabatan jadi petantang-petenteng,” ujar Fellycia Widjadja, 29 tahun, yang bekerja di industri game.

Sadar betapa pentingnya suara mereka menentukan arah Pemilu 2024, seorang anak muda lainnya mengaku sangat berharap ada kandidat yang memikirkan isu yang relevan untuk anak muda.

"Sekarang banyak isu pemutusan hubungan kerja (PHK), mungkin (isu yang perlu dibahas) adalah penambahan lowongan kerja. Itu akan meningkatkan ekonomi Indonesia,” ujar Muhammad Zenner, 29 tahun, yang bekerja di bidang IT. 

Gerakan independen anak muda "Bijak Memilih" pun lahir

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendefinisikan pemilih muda yakni mereka yang berusia 17–40 tahun. Sadar akan pentingnya suara kelompok millenial dan Gen Z dalam Pemilu 2024, sebuah gerakan independen Bijak Memilih pun lahir untuk memudahkan anak muda memilih dengan bijak dan tepat sasaran.

"Kalau orang-orang muda ini menuntut, ‘Eh, bicara isu dong! Capek nih tentang teatrikal gosip-gosip saja', maka yakin diskursus politiknya akan lebih mengarah ke isu,” ujar Abigail, co-initiator Bijak Memilih. 

Foto: Taris Hirzi/DW

Abigail yang juga pendiri What Is Up Indonesia, sebuah platform yang membahas tentang sosio-politik Indonesia dalam Bahasa Inggris, mengaku punya kepedulian yang tinggi terhadap perpolitikan Indonesia.

Menurutnya, dengan membuat anak-anak muda mau menuntut agar para kandidat capres lebih membahas isu dan debat gagasan, maka akan membuat jurang informasi lebih mudah diakses dan dimengerti. "Jika informasi itu lebih mudah dimengerti maka orang akan lebih percaya diri untuk bersuara dan menuntut itu," tambahnya.

Bijak Memilih mengajak anak-anak muda kritis untuk lebih mengenali posisi partai terhadap isu. Lewat websitenya, bijakmemilih.id menyimpulkan 15 isu yang dianggap penting oleh orang muda berdasarkan hasil agregasi berbagai macam survei dan riset dari berbagai lembaga.

"Misalnya isu kebebasan berpendapat. Di Bijak Memilih kita kasih liat, ‘Oh isu kebebasan berpendapat bisa diukur paling jelas misalnya dari UU ITE'. Nah, kita kasih liat dari UU ITE ini siapa sih partai yang mendukung? Siapa yang minta revisi? Siapa yang menolak?" jelasnya.

Mereka juga akan membantu anak-anak muda Indonesia untuk memahami secara komprehensif dan lebih baik terkait perpolitikan Indonesia, lewat kuis ringan di websitenya. Semuanya bertujuan agar mampu menggaet sebanyak mungkin anak muda agar dapat membuat pilihan yang didasari oleh informasi berkualitas.

(pkp/ha)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait